Manhaj Tarjih: Rasionalitas Islam ala Dosen PAI UMM

Malang – Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag, menegaskan bahwa Manhaj Tarjih Muhammadiyah merupakan bentuk rasionalitas keagamaan yang adaptif dan responsif terhadap tantangan modernitas. Hal tersebut ia sampaikan dalam forum ilmiah yang diikuti dosen dan tenaga kependidikan di Aula Budi Utomo UMLa, Kamis (26/2/2026). Dalam paparannya, Dr. Nurul Humaidi menjelaskan bahwa sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah memosisikan diri sebagai gerakan Islam yang rasional dan transformatif. Pendekatan ini, menurutnya, telah dicontohkan langsung oleh KH. Ahmad Dahlan dalam metode pengajaran Al-Qur’an yang tidak berhenti pada pemahaman tekstual, tetapi berorientasi pada perubahan sosial. “Pendekatan Kiai Dahlan terhadap Surah Al-Ma’un dan Al-‘Asr menunjukkan bahwa Al-Qur’an harus dihidupkan dalam tindakan nyata. Tafsir tidak berhenti pada hafalan, tetapi melahirkan etos amal dan kepedulian sosial,” jelasnya. Manhaj Tarjih dan Tradisi Ijtihad Kolektif Sebagai dosen PAI UMM yang juga aktif dalam struktur Persyarikatan, Dr. Nurul menegaskan bahwa tradisi ijtihad Muhammadiyah berkembang sistematis sejak berdirinya Majelis Tarjih dan Tajdid pada 1927. Lembaga ini menjadi ruang ijtihad kolektif (ijtihad jama’i) dalam merumuskan hukum Islam berbasis Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendekatan rasional. “Muhammadiyah menggunakan metode istinbath seperti qiyas dan pertimbangan rasionalitas berbasis akal sehat. Manhaj tarjih bersifat dinamis, bukan statis. Keputusan hukum adalah hasil ijtihad kolektif, bukan klaim kebenaran mutlak,” tegasnya. Menurutnya, keterbukaan terhadap kritik dan dialog menjadi ciri penting manhaj tarjih. Hal ini menjadikan Muhammadiyah tetap relevan di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial. Rasionalitas Islam dan Tantangan Modernitas Dalam konteks modernitas, rasionalitas keagamaan Muhammadiyah tampak pada penggunaan metode hisab dalam penentuan awal Ramadan serta pengembangan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sikap ini menunjukkan bahwa agama dan sains tidak harus dipertentangkan. “Modernitas bukan ancaman, tetapi instrumen yang dapat memperkuat praktik keagamaan jika dikelola dengan manhaj yang tepat,” ujarnya. Ia juga menegaskan perbedaan pendekatan Muhammadiyah dalam bidang ibadah dan muamalah. Dalam ibadah mahdhah, setiap praktik harus memiliki dasar dalil yang jelas. Namun dalam ranah sosial dan kemasyarakatan, Muhammadiyah bersikap progresif dan adaptif terhadap kebutuhan zaman. Spirit Surah Al-Ma’un dan Al-‘Asr, lanjutnya, diwujudkan dalam berbagai amal usaha seperti lembaga pendidikan, rumah sakit, dan layanan sosial. “Muhammadiyah adalah gerakan yang sibuk mengurus orang hidup. Dakwah tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir dalam pelayanan dan pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya. Kontribusi Akademik Dosen PAI UMM Pemikiran yang disampaikan Dr. Nurul Humaidi menunjukkan peran strategis dosen PAI UMM dalam mengembangkan wacana keislaman yang rasional, inklusif, dan kontekstual. Manhaj tarjih tidak hanya menjadi metodologi hukum, tetapi juga paradigma berpikir yang membangun Islam berkemajuan. Melalui ijtihad kolektif, keterbukaan terhadap perkembangan ilmu, serta keberpihakan pada kemaslahatan umat, Muhammadiyah terus menghadirkan Islam yang relevan, mencerahkan, dan solutif bagi masyarakat kontemporer.

Opini Dosen PAI UMM di Klikmu: Shalat sebagai Kompas Kesadaran Mahasiswa dalam Momentum Isra’ Mi’raj

Malang – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kontribusi akademiknya melalui pemikiran dosen yang dimuat di media nasional Muhammadiyah, Klikmu.co. Dalam opini yang terbit pada 18 Januari 2026, I’anatut Thoifah, M.Pd.I, dosen Fakultas Agama Islam UMM, mengajak mahasiswa memaknai Isra’ Mi’raj sebagai momentum refleksi kesadaran hidup, bukan sekadar peringatan tahunan. Menurutnya, peristiwa Isra’ Mi’raj memiliki dimensi psikologis dan spiritual yang sangat relevan dengan kondisi mahasiswa hari ini. “Isra’ Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual.” Shalat sebagai Sistem Pengelolaan Hidup Dalam opini tersebut, dosen Prodi PAI UMM ini menegaskan bahwa inti Isra’ Mi’raj terletak pada penetapan ibadah shalat. Ia menilai shalat bukan sekadar ritual, melainkan sistem pengelolaan waktu dan kesadaran diri. “Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Itu menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim.” Ia bahkan mengilustrasikan shalat sebagai siklus manajemen hidup yang sistematis. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset.” Pendekatan ini menjadi perspektif reflektif yang sejalan dengan visi Pendidikan Agama Islam UMM dalam membentuk mahasiswa berkarakter, berintegritas, dan memiliki keseimbangan spiritual-rasional. Spiritualitas di Tengah Tekanan Akademik Dalam tulisannya, I’ana menyoroti realitas mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik, kecemasan masa depan, hingga kelelahan mental. Ia menilai solusi tidak cukup hanya pada strategi akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab.” Melalui gagasan tersebut, dosen PAI UMM ini menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj memberikan orientasi hidup yang lebih dalam—bahwa kuliah bukan sekadar mengejar IPK, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Shalat sebagai Kompas Kesadaran Di akhir opininya yang dimuat di Klikmu.co, ia menekankan pentingnya menjadikan shalat sebagai kompas kesadaran dalam kehidupan mahasiswa. “Shalat bukan sekadar kewajiban ritual dan berhenti di atas sajadah, tetapi menjadi kompas kesadaran yang menuntun sikap dalam nilai yang penuh berkah.” Publikasi opini ini menunjukkan peran aktif dosen Program Studi PAI UMM dalam menyumbangkan pemikiran keislaman yang kontekstual dan relevan dengan dinamika generasi muda saat ini.

Kaprodi PAI UMM Isi Pondok Ramadhan 1447 H di SMK Mutu Gondanglegi, Tekankan Pentingnya Qolbun Salim

Ustadz Zulfikar memberikan ceramah Pondok Ramadhan

Malang – Komitmen Kaprodi PAI UMM dalam penguatan pendidikan karakter Islam kembali diwujudkan melalui kegiatan Pondok Ramadhan 1447 H di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi (SMK Mutu), Kamis (26/2/2026). Kegiatan yang berlangsung di Lantai 7 Titanium Building ini menghadirkan Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang, Ustadz Zulfikar, S.Pd.I., M.Pd., sebagai narasumber utama. Partisipasi ini menjadi bagian dari kontribusi strategis Prodi PAI UMM dalam membina generasi muda agar memiliki ketangguhan mental dan spiritual di era modern. Strong Inside, Shining Outside: Pesan Kaprodi PAI UMM untuk Generasi Z Mengusung tema “Strong Inside, Shining Outside”, materi yang disampaikan Kaprodi PAI UMM menyoroti tantangan generasi Z, mulai dari overthinking, tekanan sosial, hingga derasnya arus informasi digital. Dengan metode brainstorming interaktif dan uji fokus, suasana kajian berlangsung dinamis. Para siswa SMK Mutu Gondanglegi tampak antusias mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam pemaparannya, Ustadz Zulfikar menegaskan bahwa kekuatan mental tidak dapat dipisahkan dari kebersihan hati. “Kita tidak bisa menjadi pribadi yang bersinar di luar jika di dalam diri kita masih gelap. Strong inside berarti hati kita bersih, pikiran kita positif, dan prasangka kita baik. Dari situlah Allah memancarkan cahaya keberhasilan dalam hidup kita.” Qolbun Salim sebagai Fondasi Ketangguhan Mental Lebih lanjut, Kaprodi PAI UMM menekankan pentingnya membangun qolbun salim (hati yang bersih) sebagai fondasi menghadapi tantangan zaman. “Di era kompetitif seperti sekarang, yang membuat seseorang unggul bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi kekuatan hati. Jika hati kita tertata, maka hidup kita pun akan tertata. Hati yang bersih akan melahirkan aura positif dan kepercayaan diri.” Momentum Ramadhan, menurutnya, adalah madrasah pembentukan karakter. Melalui ibadah, istighfar, dan kedekatan kepada Allah SWT, siswa dapat membangun mental tangguh sekaligus spiritualitas yang kuat. “Ramadhan adalah proses reset jiwa. Di sinilah kita belajar membersihkan hati, menguatkan mental, dan menata masa depan agar menjadi pribadi yang berprestasi dan berakhlak.” Komitmen Prodi PAI UMM dalam Pendidikan Karakter Islam Kehadiran Kaprodi PAI UMM dalam Pondok Ramadhan 1447 H ini menegaskan peran aktif Prodi PAI UMM dalam penguatan pendidikan karakter Islam di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menjadi langkah konkret dalam membangun generasi berilmu, berakhlak, dan berdaya saing global. Melalui kolaborasi ini, Prodi PAI UMM terus berkomitmen mencetak pendidik dan generasi muda yang unggul secara intelektual, kokoh secara spiritual, dan matang secara emosional.

Alumni PAI UMM Resmi Menjadi Kepala SDN Torongrejo 03

alumni pai umm kepala sdn torongrejo 03

Kabar membanggakan kembali datang dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satu alumni PAI UMM, Soleh Subagja, S.Pd.I., M.Pd.I., resmi mendapat amanah sebagai Kepala SDN Torongrejo 03 di bawah naungan Dinas Pendidikan. Penunjukan alumni Pendidikan Agama Islam UMM sebagai kepala sekolah ini menjadi bukti nyata bahwa lulusan PAI UMM memiliki kompetensi akademik, profesional, serta kepemimpinan yang kuat dalam mengelola lembaga pendidikan. Sebelum dipercaya menjadi Kepala SDN Torongrejo 03, beliau mengemban jabatan fungsional sebagai Guru Ahli Muda. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam menjalankan kepemimpinan berbasis nilai-nilai pendidikan Islam dan manajemen sekolah yang profesional. Keberhasilan alumni Prodi PAI UMM ini semakin memperkuat posisi Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu prodi yang konsisten melahirkan tenaga pendidik dan pemimpin pendidikan yang unggul, berintegritas, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Capaian ini diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa aktif Pendidikan Agama Islam UMM untuk terus meningkatkan kompetensi akademik dan kepemimpinan, serta memperluas kontribusi di dunia pendidikan nasional. Dengan amanah baru ini, diharapkan Kepala SDN Torongrejo 03 dapat membawa inovasi dan peningkatan mutu pendidikan, sekaligus menjadi representasi kualitas alumni PAI UMM di tengah masyarakat.

Keren! Mahasiswa PAI Raih IPK Tertinggi di Yudisium FAI UMM, Ini Rahasianya…..

Fakultas Agama Islam – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan acara Yudisium Fakultas Agama Islam (FAI) Periode IV Tahun 2025. Kegiatan dengan tema “Mewujudkan Lulusan yang Kompeten, Berkarakter, dan Berdaya Saing di Era Global” berlangsung dengan khidmat pada Jum’at, 21 November 2025. Acara yang bertempat di Ruang Micro Teaching (MT), Gedung Kuliah Bersama (GKB) 3 Lantai 5, UMM Kampus 3 ini dihadiri secara langsung oleh Ketua Dekan FAI beserta jajarannya, serta Bapak/Ibu Dosen dari berbagai program studi, termasuk Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam, Hukum Keluarga Islam, Pendidikan Bahasa Arab, dan Ekonomi Syariah. Dalam sambutannya yang membuka acara, Dekan FAI UMM, Bapak Dr. Imamul Hakim, SE., M.Sh., menyampaikan kebanggaan dan apresiasi yang tinggi atas capaian para mahasiswa. “Selamat atas keberhasilan yang telah diraih. Yudisium hari ini bukanlah garis akhir, melainkan gerbang awal untuk memulai peran baru di masyarakat. Ilmu yang telah didapat di bangku kuliah harus menjadi bekal untuk berkontribusi nyata, menjadi agen perubahan, dan tentunya, menjadi lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berakhlak mulia,”. Beliau juga menyampaikan pesan motivasi bahwa “Kebaikan dan kebenaran di Islam itu sudah jelas. Akan tetapi, setiap manusia berhak menetukan pilihannya, mau meraih kebaikan dan kebenaran dengan berusaha atau tidak”. Setelah sambutan, acara inti prosesi yudisium dilaksanakan dengan pengumuman mahasiswa dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi. Kebanggaan tersebut berhasil diraih oleh Bagus Nur Abidin, mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), dengan IPK sempurna 3,87. Prestasi ini menjadi bukti nyata dedikasi dan kerja keras dalam menempuh studi. Sebagai Mahasiswa dengan IPK tertinggi di Yudisium FAI, Bagus menyampaikan rasa terimaksihnya bahwa “Terimaksih kepada kedua orang tua saya yang telah memberikan dukungan dan dorongan selama ini serta kerja kerasnya sebagai petani untuk membiayai saya. Rasa pesimis saya pada awal perkuliahan menjadi salah satu tantangan yang akhirnya berubah karena organisasi”. Bagus juga berbagi rahasia jitunya meraih IPK tertinggi. “Kuncinya cuma tiga: jangan males baca, manage waktu dengan baik antara organisasi dan akademik, dan yang paling penting… jangan sungkan minta penjelasan dosen kalau ada materi yang belum paham. Itu game changer nya!” ujarnya disambut tepuk tangan meriah. Kegiatan Yudisium FAI Periode IV Tahun 2025 diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan resmi dari universitas atas pencapaian akademik para mahasiswa, memberikan motivasi dan penyemangat kepada para wisudawan sebelum terjun ke Masyarakat dan mempererat tali silaturahmi antara para lulusan, dosen, dan jajaran fakultas, sehingga dapat membangun jejaring yang kuat untuk kemajuan bersama di masa depan. Dengan ditutupnya acara yudisium, diharapkan seluruh wisudawan dan wisudawati FAI UMM, khususnya dari Prodi PAI, dapat mengaplikasikan ilmu mereka dengan optimal dan menjadi alumni yang membanggakan serta memberikan dampak positif bagi bangsa dan negara.